24.12.10

Waktu Langit Mengoranye

Padahal langit terlihat abuabu sejak sebelum sore. Tugas hari ini seakan tidak ada habisnya. Lama-lama saya bisa terkubur oleh keringat sendiri. Siang tadi, terik, meski mendung bergerak dari arah utara. Saya rasa, seperti nikmat kopi pagi tadi, ada sakau yang tetap tertinggal. Belakangan baru sadar kalau ternyata waktu terburu-buru berganti. Mengganti dua angka belakang di tahun ini. Tujuan sebenarnya masih mengawang di kepala. Dan, saya mulai menghitung mundur.

Sejak dataran menjadi kuning di lembah verbeeck, tenggelam matahari tetap saja menarik untuk di tunggu. Saya menyukai bila sudah terlihat setengah. Hari yang diakhiri dengan indah. Tanda, sudah saatnya menjemput dia. Setia, dan dia menunggu. Maklum, kami sama merindu.

"Jemput saya besok pagi. Di terminal pukul tujuh" katamu, sehari sebelum berangkat ..

"untukmu, sekarang saya sudah sedia ke sana"

Saya berani berlomba dengan matahari yang masih lelap dalam subuh berhias halimun demi menata tugas sebelum pergi. Sedari tadi, saya sudah siap beranjak meninggalkan tempat yang setiap hari membasahi dahiku dengan bulir bulir peluh.

Sebentar lagi, waktu langit mengoranye ..

12.12.10

Bertubuh 'dekil'

Matahari juga hujan, terik, dingin, bagi mereka semata pelangi yang indah ..
Bukan tetes kristal menjadi segenggam berlian
tapi lelah demi sepiring bersama ..
Tinggalkan rindu, sampaikan doa pada langit
entah sampai, mungkin tertunda ..

Orang negeri ini masih terjajah, tepatnya menjajah orang negeri ini ..
Dengan lenting telunjuk, atau lidah tanpa bisa ..
Sudah mirip 'romusa' di masa lalu, meski cambuk bukan di tangan ..