Langit menggantung pekat dibubuhi titik-titik, bersinar, putih, serupa melati ..dan kau, terlihat sama. Sebelum malam habis, kamu masih saja memanja ..Tidak henti-henti menggodaku dengan sayup mata lentikmu, serupa hujan, tenang rasanya disirami tatap yang juga meneduh.
“apa masih ada puisi untukku?”
“hemm..bukankah setiap hari sudah aku berikan?”
“aku ingin lebih..”
“setara seribu?”
“lebih !!”
“baik. kalau begitu, tunggu saja..”
