22.4.10

Salam Bumi

Sejauh mana kita melangkah,harus tanpa keraguan..
Setinggi apa kita mencari,yakinkan satu dalam jiwa..
Seperti itulah bumi berpesan pada kita..

Ketika rasa berselimut takut juga harapan,
Sejak impian menjadi anugerah yang nyata,
Saat itulah semua kembali pada Sang Pemilik Bumi ..

Hidup berpijak di atas bumi yang indah .,
Tak ada ego., kemunafikan serta pengkhianatan .,
Sungai yang beriak., Hutan yang teduh.,Tanah yang hangat., Udara yang sejuk., Langit yang cerah., Laut yang biru ..
Akanmenjadikan bumi ini seperti Surga semua makhluk-Nya ..

:care our planet -Earth's Day-

9.4.10

Dia Sebut Jelita (2)

Dia menarik udara dengan tegas, lalu menghembusnya perlahan. sejenak menghadap langit, entah apa maksudnya, lalu berangkat, dengan semilir senyum terpatri, rona di wajahnya, terkaca di matanya.

Tidak begitu lama, seperti kebanyakan. setelah dia kembali, merasa siap, dan dia menceritakan kepadaku tentang pertemuannya tadi :

“..setelah saya sampai di sana, seorang perempuan, dengan kemeja panjang merah jambu, berkerudung yang juga merah jambu, kulitnya putih bak awan yang terhindar mendung, dengan balutan sweeter abuabu, rok lebar memanjang sedikit melewati lututnya, bermotif campuran kotak dan bunga warna-warni, mendekat menghampiriku. Tak butuh waktu lama untuk saling mengenali, juga basa-basi berpura-pura banyak tanya. Kami memang sudah akrab, karib sekali, jauh sebelum kami Dipertemukan hari ini. Cukup lama kami berhadapan. Cukup lama saya menatapnya, cukup lama dia menunduk. Dia tersipu, saya gembira kalau dia begitu. Hanya satu dua kata yang diucapkannya, ‘hi’ dan ‘apa kabar?’, lalu saya mengulangi pertanyaan yang sama, ‘hi’.. ‘apa kabar juga?’ ..

Begitu banyak orang yang berlalu lalang di situ, puluhan, mungkin ratusan. Dari bapak-ibu yang membawa serta anaknya berjalan-jalan, muda-mudi yang memadu kasih, remaja abg yang berbaju ketat seperti tak kenal malu. Semuanya sibuk, bergerak, kesana-kemari, lalu-lalang, kecuali saya, dan dia, yang sekarang berdiri di sampingku. Sebentar-sebentar menoleh padaku, sebentar-sebentar tersipu, lalu menunduk lagi. Menoleh lagi, tersipu lagi, menunduk lagi.

Setelah cukup lama kami berdiri bersisian, tanpa saling banyak bicara, hanya bergantian pandang, bergantian menunduk, bergantian tersipu, kami sepakat melihat-lihat sekeliling, beriringan tapi tak berpegangan, mencari tempat yang tidak merusak suasana nyaman itu. “kita cari tempat ngobrol ’ yuk?” ajakku, sambil menunjuk ke dalam resto yang dari luarnya terdengar alunan lagu dari Led Zeppelin-Stairway to Heaven- diiringi sebuah band indie, dia cuma tersenyum, melihatku sebentar lalu menunduk, mengangguk. Sekali lagi dia tersipu. Dia lebih banyak tersenyum daripada bicara. Dia suka begitu, dan saya sangat suka bila dia begitu. Dia tampak sangat anggun bila begitu.

Di tempat itu kami bertukar cerita, tentang keluarga, hobi, buku, sejarah, musik, makanan, kota-kota tua, gunung-gunung, musik, museum, fotografi, lukisan, bunga, beda dokar dengan gerobak?, mengapa banteng benci dengan warna merah?, bagaimana terjadinya gempa?, apa itu pangea?, arah rasi bintang?, mengapa langit berwarna biru?, bergunakah minum kopi?, siapa sebenarnya Tan Malaka?, dan banyak lagi. Seperti mengulang deretan tanya jawab yang dulu hanya bisa kami lakukan lewat pesan singkat di hp. Menyimak pembicaraan satu sama lain. Beberapakali kudapati tatapannya, entah berapa banyak kudapati dia tersipu, tetap sambil menunduk, dengan menerbitkan senyumnya ..lagi”

Belakangan, siang sebelum temanku berangkat ke Jakarta, dia mengajakku bertemu dengan perempuan yang senang ia ceritakan itu. Khaidir mengenalkanku seseorang yang akan mengantarnya ke bandara. namanya St. Alfiah Fathy Bazar'ah, mahasiswi tingkat akhir yang dua bulan kedepan segera menjadi seorang Sarjana Sastra. hari itu cerah, dan Alfiah memakai kerudung biru muda, lalu seperti terbayang di pikiranku cerita Khaidir saat mereka memutuskan bertemu. tangannya sungguh lembut, putih. wajahnya jangan ditanya., mempesona! agak lebih tinggi dari temanku. Aliah seakan tidak rela melepaskan lingkaran tangannya dari lengan Khaidir. “Ah, sungguh nama yang pernah kau sematkan pada perempuan ini tidak salah teman!”, bisikku pelan tapi yakin. bidadari manapun pasti malu bila mendapat sebutan itu di sanding Alfiah. Sebuah kata, yang pantas tersemat hanya untuknya. St. Alfiah Fathy Bazar'ah .. tunggu temanku kembali, Jelita!!

Dia Sebut Jelita





Sudah dua hari ini, dia menginap di kamar kontrakanku. Seorang teman lama, namanya Khaidir, teman sewaktu sekolah dulu. saat dia datang, saya hanya bisa menatap sebuah kekosongan, kosong dari sorot dari matanya. seperti banyak hal yang ingin dia ceritakan. suatu kali, ketika saya baru saja tiba dari kantor tempatku bekerja, saya mendapatinya sedang menulis sebuah surat atau mungkin puisi. lalu, dia memintaku untuk mendengarkan ceritanya, tentang isi tulisannya. saya mengangguk. Khaidir menerbitkan senyumnya, seolah kata terima kasih yang dalam.

Temanku itu belum mengenalnya betul saat ini. hanya dari wajahnya, dia lalu memanggilnya dengan sebutan itu. sekedar tahu nama sebenarnya. tapi yang keseluruhan lain tentangnya belum, apalagi. dia mengerti. dia berharap bahwa suatu saat, mereka akan bertemu. mereka pernah berjanji akan bertemu bila waktunya tiba. biarkan menjadi indah di waktu yang tepat, katanya.

Sedikit basa-basi cerita, guyonan hingga kata-kata memanja dalam pesan singkat mereka seperti akrab, meski tidak setiap hari seakan mereka berdua teman semasa kecil yang terpisah karena bencana, dan, baru saat ini dapat bertemu kembali. di sini. di dunia maya.
“apakah kamu bosan mendengar ceritaku?” tanyanya, dengan tatap mata tertuju padaku. tanpa menunggu jawaban, lalu meneruskan cerita ..

Menurut perhitungannya, 2 tahun. kurang lebih sudah 2 tahun berlalu. belum juga diberi kesempatan bertemu. padahal, sebentar lagi, temanku Khaidir ini, akan berpindah waktu di pulau berbeda. dia ingin melanjutkan kuliah, memenuhi janji orangtuanya, di Universitas Indonesia, kelak menjadi seorang Magister Ekonomi. entah kapan waktu dapat berjumpa, dapat bicara, mendengar cerita-cerita yang membuat mereka jadi saling rindu, menjadikan lucu, tertawa, bahagia, seperti kalau dituliskannya di pesan singkat diakhiri dengan “hahaha..atau hehehe..kadang wkwkwk..”.

Hari menjelang sore, setelah Khaidir memutuskan untuk menunda lanjutan ceritanya, dia hanya duduk terpaku di samping jendela, melemparkan pandangnya, mengagumi pelangi yang terlukis di selatan bumi. tadi, setelah hujan berhenti. sebelum dia menulisi kertas ini, sambil mengingat-ingat kembali wajah perempuan itu. “aghh, kenapa juga dia selalu ada menghiasi hariku? heran, tapi tak juga pernah bisa bosan. hanya saja..(dia meletakkan penanya, terdiam sebentar, seperti mencari kata)..hanya saja, apakah kamu setuju kalau aku menyebutnya begitu?” tiba-tiba saja dia menoleh padaku, dengan wajah yang bertanya. Saya tak jadi menjawab, lantaran temanku meneruskan : “jangankan satu, seribu sebutan indah pun akan ku beri ..”

Sebulan telah lewat, suatu hari saya mendengar kabar lewat pesan singkat darinya kalau mereka sudah memutuskan untuk bertemu. seperti tak sabar, melihat temanku melebur maya jadi nyata, menggubah puisi dengan simphoni.

Hari itu tiba. langit mendung, sebentar–sebentar gerimis. temanku kelihatan sedikit gugup, keringatnya tidak berhenti-henti mengucur dari akar-akar rambutnya. sesekali dia harus menyekanya dengan tisu. butuh beberapa batang rokok untuk menenangkan kecamuk pikirannya, sebuah sebab akan pertemuannya yang pertama. saat yang dia nanti selama ini.

-jelita calling- ..tiba-tiba lagu I’m finally found someone dari Bryan Adam feat Barbara Streisand mengalun dari hp Khaidir.
“ehmm,Assalamualaikum., kamu sudah dimana?”
“Waalaikumsalam.., sebentar lagi sekitar 8 menit .. kamu berangkat sekarang yah., tunggu aku ..” terdengar lembut suara dari sana …
“iya, aku berangkat sekarang, dekat kok dari sini..” jawab temanku semangat..
“okey..” ..-jelita end call-