30.8.11

Mencari Tahu Hilal Yg Dinanti

"Menurut para ahli fiqih, keputusan waliyyul amri atau hakim syar'i/pemerintah, yarfa'ul khilaf, menyelesaikan perpecahan. Secara sederhana, hukum fiqh terbagi 2, yaitu urusan privat & urusan publik. Kita boleh berbeda dalam mengamalkan hukum-hukum fiqh yg berkaitan dg urusan privat, seperti wudhu, shalat, puasa, bahkan haji boleh kita lakukan sesuai mazhab masing-masing.
Tapi ketika ibadah sudah memasuki wilayah publik, kita tidak boleh ikhtilaf. Demi kepastian hukum dan ketertiban umum. Mazhab-mazhab yang berbeda menetapkan hari wukuf di Arafah yang juga berbeda-beda. Tapi ketika Kerajaan Saudi menetapkan hari wukuf (misalnya Kamis), maka seluruh jamaah haji mematuhi. Apapun mazhabnya. Syiah & Sunni wukuf pada hari yang sama. Bisa anda bayangkan apa yang terjadi sekiranya tiap mazhab bertahan dengan keputusan yang berbeda-beda? Bayangkan kacau balaunya ibadah haji karena dua kali wukuf, dua kali melempar jumrah, dst." (Dikutip dari penjelasan Prof DR Jalaluddin Rakhmat, Ketua Dewan Syura IJABI)

Hilal adalah penampakan bulan dengan mata telanjang yang paling awal terlihat menghadap bumi setelah bulan mengalami konjungsi atau peristiwa yang terjadi saat jarak sudut (elongasi) suatu benda dengan benda lainnya sama dengan nol derajat. Dalam pendekatan astronomi, konjungsi merupakan peristiwa saat matahari dan bulan berada segaris di bidang ekliptika yang sama. Ini salahsatu kriteria hisab suatu awal bulan. Penentuannyapun selalu selalu saja menuai berbagai pendapat. Hal yang menjadi penting karena sudah menyangkut keyakinan dan fiqh kepentingan orang banyak. Terdapat dua metode yang biasa dilakukan dalam penetapannya, yakni metode Rukyat dan Hisab.  

Rukyah : Metode pandangan mata
Hisab : Metode perhitungan matematik astronomi 

23.8.11

Memasang aplikasi Chating (seperti pada Facebook) di Blog/website


Sedikit berbeda dengan tulisan2 saya pada umumnya. Cuma ingin share aplikasi yang saya terapkan di Blog ini. Aplikasi CHATing seperti yang ada pada Facebook. Silahkan buka dan daftar dulu (sign up) di www.envolve.com. Isi semua biodata yang diperlukan, lalu tunggu konfirmasi kode HTML-nya., copy+paste kode tadi sesuai petunjuk yang diberikan. Direkomendasikan untuk memasang kode tepat di atas (sebelum) tag.

22.8.11

Rapat Teknis sampai Trip Karst Maros-Pangkep






Rapat Teknis Pengelolaan Kawasan Karst
(Hotel Sahid Jaya Makassar,28 Juli 2011)










Pembicara :
1.Kebijakan Pengelolaan Kawasan Karst
oleh: Ir. Antung Deddy Radiansyah, MP (Asisten  Deputi Kehati dan Pengendalian Kerusakan Lahan)

2.Inventarisasi Kawasan Karst
oleh: Dr. Ir. Eko Haryono, M.Sc (Fakultas Geografi UGM)



21.8.11

Pagi

i don’t like Morning
Penanda waktu menunjukkan pukul 5.30. Pagi. Beradu dengan gemuruh hujan di luar sana. Azan subuh diperdengarkan beberapa menit lalu. Enggan rasanya membuka mata. Melepas hangat kantung tidur berpisah dengan tubuhku yang kecil. Serasa inilah waktu dimana pikiran memasuki zona nyamannya. Saat dimana pikiran leluasa beristirahat dari semua penat. Matahari di balik bukit sedang bersiap. Mengintipku dari kejauhan. Masih dengan hujan ini, pelangi enggan mempertontonkan warna warninya. Belum saatnya, langit sedang enggan melukis cakrawala. Sedikit menggerutu, “ahh.. gejala alam, begitu sibuknya kalian di pagi ini, sedang saya, terlelap memimpikan dia dengan kalian.

15.8.11

Sawit, Solusi Masalah atau Awal Bencana (jejak 4)

Enggan Berdebat, Tak Mau Berbuat
Berhubungan dengan hal ini, saya tertarik dengan sebuah argumen yang dilontarkan oleh Christopher C. Horner, seorang pengamat ekonomi lingkungan, yang dalam bukunya “The Politically Incorrect Guide on Global Warming and Environmentalism, (Regnery Publishing, 2007)” lewat tulisan Ari Muhammad “Menyikapi Pemanasan Global: Berdebat atau Berbuat” yang dimuat dalam sisipan NGI edisi Oktober 2007 “ Menegakkan Hutan Mendinginkan Bumi” yang membantah habis-habisan tentang penyebab fenomena Global Warming. Isu yang menurutnya terlalu berlebihan hingga membuat orang-orang takut akan memanasnya bumi. Horner mempertanyakan perihal waktu sebagai acuan. “Jika dibandingkan dengan era 1970-an atau zaman es, jelas temperatur global saat ini relatif “hangat”. Namun, jika rujukannya digeser ke 1930-an, atau 1000 M-atau bahkan 1998-suhu saat ini lebih “dingin” ’. Pemanasan tidak dianggap sebagai suatu malapetaka, tetapi pendinginan seperti pada zaman es malah lebih mendekati kriteria bencana.

10.8.11

Sawit, Solusi Masalah atau Awal Bencana (jejak 3)

Mati Seribu Pohon, Tumbuh Sejuta Sawit 
Tidak dapat dipungkiri bahwa wacana akan pemanasan global yang semakin tahun semakin meningkat adalah isu penting di setiap negara. Tidak terkecuali di Indonesia yang mempunyai kawasan hutan tropika sekitar 93,92 juta hektar (hasil penetapan luas kawasan hutan oleh Dept. Kehutanan tahun 2005). Papua adalah daerah yang mempunyai kawasan hutan yang paling luas (32,36 juta ha), lalu Kalimantan (28,23 juta ha), Sumatera (14,65 juta ha), Sulawesi (8,87 juta ha), Maluku dan Maluku Utara (4,02 juta ha), Jawa (3,09 juta ha), serta Bali dan Nusa Tenggara (2,7 juta ha). Keseluruhan hutan ini merupakan tenaga yang dibutuhkan oleh bumi khususnya di negara kita untuk mengikat emisi karbon sebagai tersangka utama penyebab pemanasan global. Sayangnya, hal ini cuma seakan menjadi penambah wawasan saja bagi beberapa orang yang berpikiran ‘sedikit’ skeptis. Akhirnya, dengan mengatasnamakan perekonomian dan kesejahteraan rakyat,

6.8.11

Sawit, Solusi Masalah atau Awal Bencana (jejak 2)

Ini pagi yang cerah sekaligus hari yang bakal melelahkan pastinya. Kami sudah mulai bersiap. Hari untuk kami mulai bekerja mengambil data, ‘akuisisi’ istilah dalam terminologi ilmu kebumian. Setelah sarapan, alat yang akan digunakan untuk pengambilan data di lapangan satu per satu dinaikkan ke mobil. Set Propeller Current Meter untuk pengukuran debit sungai (Salu Leling), Kemmerer Water Sampler untuk pengambilan sampel air yaitu analisis kandungan TSS dan kekeruhan air sungai. Sampel tersebut akan dianalisis di laboratorium dengan metoda Turbidimetrik/Gravimetrik. Dan juga, beberapa rangkap kuisioner sebagai bahan acuan dan referensi untuk melihat bagaimana tanggapan masyarakat sekitar tentang keberadaan perusahaan perkebunan sawit di daerah mereka dalam berbagai aspek sosial dan ekonomi.

5.8.11

Sawit, Solusi Masalah atau Awal Bencana

Catatan perjalanan saya bersama tim Penyusun Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup (DELH) utuuk kegiatan perkebunan kelapa sawit di daerah Tommo-Mamuju(20-22 mei '11)

Matahari pagi baru saja naik seperempat tombak ketika saya beserta rombongan tim tiba di terminal Kota Mamuju. Jumat, kira2 pukul tujuh. Perjalanan dari Kota Makassar ditempuh selama kurang lebih 10 jam. Perjalanan yang cukup melelahkan. Kami, Pak Muchtar selaku koordinator tim yang juga seorang dosen di Fakultas Pertanian Unhas, Pak Ambeng (dosen Biologi), Pak Maming (dosen Kimia) dan Pak Baso Djamade (asisten ahli sosial ekonomi) juga Gustam teman dari PSL masih akan melanjutkan perjalanan menuju kecamatan Tommo, sekitar 2-3 jam lagi dari kota Mamuju.
“kita ketemu langsung di pabrik, bagaimana?” Pak Muchtar memberi solusi agar perjalanan tidak tertunda dikarenakan mobil  panther yang akan membawa kami dari terminal ke daerah Tommo tidak lagi punya tempat untuk saya dan Gustam. Dek belakang mobil sudah dipenuhi alat dan barang yang kami bawa.
“iya, sebaiknya begitu saja. Kami akan menunggu Damri di sekitar terminal sambil mencari sarapan” lanjutku tanpa membantah.  Perjalanan ini akan memakan lebih dari waktu normal. 

2.8.11

KAMU! | Sebuah Pertemuan



Siapa sangka sehari ini sungguh cerah berawan
Ku putuskan untuk pergi mencari keramaian
menghindari kekosongan., untuk sebuah ketenangan
Jika hanya tinggal disini, otakku bisa jadi rawan!
pikirku kemudian ..

Kalau saja aku tahu tempat-tempat jalan jalan
Melihat-lihat gedung-gedung pencakar awan
rumah-rumah kayu dan bangunan beton berderetan
Sendiri pun, pastilah aku tak merasa kesepian ..